Sunday, September 15, 2013

Tugas 2


Bab 2
Teori-teori Belajar Awal

Di awal abad ke 20, disiplin psikologi yang baru terbentuk sedang mencari arah dan fokus. Psikologi juga ingin mengembangkan sains pasti seperti fisika dan kimia. Akan tetapi, disiplin ini belum memiliki metode riset yang pasti. Dari sini lahir behaviorisme, yang diperkuangkan oleh pendirinya, B. Watson. Dua pendekatan awal untuk mempelajari perilaku adalah pengkondisian klasik dan koneksionisme. Keduanya memprioritaskan belajar dan berhasil mengolah berbagai perilaku dalam laboratorium. John Watson mendukung studi perilaku. Alasannya adalah semua organisme menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui respons, dan respon-respon tertentu biasanya disebabkan oleh peristiwa (stimuli) tertentu. Dengan mempelajari perilaku, psikolog akan mampu untuk memprediksi respon yang ditimbulkan lewat srimulus, dan sebaliknya.

Istilah behaviorisme merujuk pada beberapa teori yang mengandung tiga asumsi dasar tentang belajar. Asumsi ini adalah :

  1. Yang  menjadi fokus studi seharusnya adalah perilaku yang dapat di amati, bukan kejadian mental internal atau rekonstruksi verbal atas kejadian.
  2. Perilaku harus dipelajari melalui elemennya yang paling sederhana (stimuli spesifik dan respon spesifik).
  3. Proses belajar adalah perubahan behavioral. Suatu respon khusus terasosiasikan dengan kejadian dari suatu stimulus khusus, dan terjadi dalam kehadiran stimulus tersebut.
Pavlov dan Pengkondisian Klasik atau Refleks

Eksperimen terkenal terhadap refleks dilakukan di laboratorium Ivan Pavlov, beliau menemukan bahwa reaksi tidak sengaja, keluarnya air liur, dapat dilatih untuk merespon suara yang tidak berhubungan dengan makanan. Riset dilaboratorium Pavlov ini penting karena ia menunjukkan bahwa reaksi keluarnya air liur adalah refleks-reaksi spontan yang terjadi secara otomatis ketika menerima stimulus tertentu. Mengubah relasi alamiah antara stimulus dan reaksi itu dianggap sebagai terobosan penting dalam studi perilaku.

Behaviorisme John Watson

Selain mengajak orang lain untuk mendukung pendapat behaviorisme yang didasarkan pada pengkondisian klasik, Watson juga mengembangkan teori emosi behavioral, dia berpendapat bahwa kehidupan emosi orang dewasa bersumber dari pengkondisian reaksi emosioanal insting (cinta,marah.takut) terhadap berbagai macam objek dan peristiwa. Watson menunjukkan teorinya dalam eksperimen dengan Albert, bayi usia 11 bulan. Reaksi takut Albert dikondikan ke tikus putih dan reaksi ini di transfer ke kelinci putih.

Koneksionsime Edward Thorndike

 Meskipun koneksionisme Edward Thorndike biasanya dirujuk sebagai teori behavioris, ia berbeda dengan pengkondisian klasik dalam dua hal.
  • Thomas Thorndike tertarik dengang proses mental, dan dia pertama-pertama mendesain eksperimennya untuk meneliti proses pemikiran binatang.
  • Alih-alih meriset reaksi refleks atau tidak sukarela, Thorndike meneliti perilaku mandiri atau sukarela.
Thorndike menyebut eksperimen ini sebagai pengkondisian instrumental untuk merefleksikan perbedaannnya dengan pengkondisian klasik. Teori ini dikenal sebagai koneksionisme karena hewan membangun koneksi antara stimuli partikuler dengan perilaku mandiri.
Thorndike pada awalnya mengidentifikasi tiga hukum belajar, untuk menjelaskan proses ini.
  1. Hukum efek (low of effects) menyatakan bahwa suatu keadaan yang memuaskan setelah respon akan memperkuat koneksi antara stimulus dan perilaku yang tepat, dan keadaan yang menjengkelkan akan melemahkan koneksi tersebut. 
  2.  Hukum latihan (low of exercise) menyatakan bahwa perulangan atau repetisi dari pengalaman akan meningkatkan peluang respon yang benar. 
  3.   Hukum kesiapan (low of readiness) mendeskripsikan kondisi yang mengatur keadaan yang disebut sebagai “memuaskan” atau “menjengkelkan”
Thorndike mendasarkan interpretasinya atas proses belajar pada studi perilaku. Namun, karena teorinya juga mencakup referensi ke kejadian mental, teorinya berada ditengah-tengah antara perspektif kognitif dan behaviorisme “murni” dari periset lain. Dua pendekatan belajar lainnya, yang disebut teori S-R, dikembangkan oleh Clark Hull dan Edwin Guthrie. Hull mendeskripsikan penguatan sebagai pemenuhan kebutuhan biologis dan Guthrie mengidentifikasi prinsip belajar tunggal, asosiasi atau kontiguitas dari stimulus dan respon.

Psikologi Gestalt

Fokus awal riset Gestalt adalah pengalaman persepsi. Riset yang dilakukan psikologi Gestalt terhadap persepsi visual menunjukkan bahwa :
  • Ciri global dideteksi sebagai keseluruhan, bukan sebagai elemen-elemen sederhana
  • Proses ini konstruktif karena individual sering mentransformasikan input visual yang tidka lengkap ke dalam citra perseptual yang lebih jelas.
Asumsi dasar teori Gestalt adalah:
  1. Yang mestinya dipelajari adalah perilaku molar bukan perilaku molecular (kontraksi otot atau sekresi kelenjar)
  2. Organisme merespon “keseluruhan sensoris yang tersegregasi” ketimbang pada stimuli spesifik atau kejadian-kejadian yang terpisah dan independent
  3. Lingkungan geografis yang hadir sebagaimana adanya, berbeda dengan lingkungan behavioral, yang merupakan cara sesuatu muncul. Lingkungan behavioral adalah realitas subjektif.
  4. Organisasi lingkungan sensoris adalah interaksi dinamis dari kekuatan-kekuatan di dalam struktur yang mempengaruhi persepsi individu.
Karakteristik tampilan stimulus yang mempengaruhi persepsi adalah komprehensivitas dan stabilitas gambaran (hukum pragnanz) dan karakteristik lain yang memberi kontribusi pada kelengkapan struktur atau pola. 

Psikologi Gestalt memberikan kontribusi beberapa konsep untuk memahami pemecahan masalah. Mungkin yang paling terkenal adalah konsep pemahaman (wawasan), yang melibatkan reorganisasi persepsi seseorang untuk “melihat” solusi. Analisi kontemporer mengindikasikan bahwa pemahaman kreatif pada masalah baru memerlukan kerja keras dan riset, periode inkubasi, momen wawasan, dan pengkajian lebih lanjut. Dalam kehidupan sehari-hari, wawasan terhadap masalah mungkin diperoleh lewat pengaturan kembali beberapa aspek dari persoalan, elaborasi, dan relaksasi pembatas. 

Kontribusi lain dari psikologi Gestalt adalah pembedaan oleh Wertheimer atas belajar arbitrer (tanpa makna) dan belajar bermakna, dan faktor-faktor lain yang mempengaruhipemecahan masalah. Didalamnya mencakup pengidentifikasian masalah untuk menyusun solusi yang memiliki nilai fungsional, peran penemuan pemecahan masalah yang bermakna dengan panduan, dan menghindari pembatasan pemecahan masalah. Hal-hal yang membatasi itu antara lain adalah kekakuan fungsional, yakni ketidakmampuan untuk melihat elemen-elemen dari masalah dengan cara baru dan belenggu masalah, yakni kekuatan dalam memecahkan masalah. Perkembangan lainnya adalah aplikasi konsep Gestalt ke formal kelompok sosial dan motivasi serta konsep belajar laten.

Perbedaan antara Behaviorisme dan Teori Gestalt

Psikologi behaviorisme dan Gestalt mendasarkan risetnya pada asumsi yang berbeda mengenai sifat dan belajar dan fokus studinya. Behaviorisme mendefinisikan belajar sebagai perubahan perilaku dan mengidentifikasi stimuli dan respons spesifik sebagai fokus riset. Sedangkan, psikologi Gestalt berpendapat bahwa sesorang merespon stimuli yang berorganisasi dan persepsi perorangan adalah faktor penting untuk memecahkan masalah. Orientasi yang berbeda ini menimbulkan kontribusi berbeda untuk bidang pendidikan.

Saturday, September 14, 2013

Diskusi Kelompok Pertemuan 1 Psikologi Belajar

Nama Anggota:

Teori Kognisi Sosial Bandura:
1.       Lingkungan mempengaruhi proses belajar individu
2.      Dengan adanya suatu modeling itu dapat mempermudah individu dalam proses pembelajaran
3.     Pengaplikasiannya terlihat jelas di kehidupan sehari-hari
4.     Tergantung pada individu bagaimana dia akan merespon lingkungannya

Point penting teori Bandura:
1.     Observasi
2.      Penilaian
3.      Reaksi

Secara filsafat konstruktivis-sosial:
1.      Pengetahuan adalah hasil pembelajaran individu melalui observasi yang diperoleh dari lingkungan
2.     Belajar adalah proses bagaimana individu mengonstuksi dan merekonstruksi pengetahuan berdasarkan penilaian  yang didapat dari hasil observasi

3.     Lokus belajar adalah bagaimana individu bereaksi terhadap hasil observasi dan penilaiannya  dari lingkungan

Sunday, September 8, 2013

Tugas 1



Bab 1
Tinjauan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa lepas dengan yang namanya belajar. Belajar adalah proses multisegi yang biasanya dianggap sesuatu yang biasa saja oleh individu sampai mereka mengalami kesulitan saat menghadapi tugas yang kompleks. Ada beberapa peran belajar dalam kehidupan sehari-hari:
  1. Bagi individu, studi tentang ‘belajar’ dapat menjelaskan tentang pemerolehan berbagai kemampuan dan keterampilan, tentang strategi untuk menjalankan peran di dunia, serta tentang sikap dan nilai yang memandu tindakan seseorang.
  2. Belajar adalah penting bagi masyarakat. Untuk mempelajari tentang nilai, bahasa, dan perkembangan kultur-pengalaman yang diwariskan (Vygotsky, 1924/1979)
Belajar merupakan hal yang sangat penting bagi masyarakat dan individu, oleh sebab itu kita tidak bisa membiarkan proses pendidikan begitu saja.
Ada beberapa upaya prateoretis untuk menjelaskan tentang belajar.
  • Kebijakan tradisional
  • Filsafat 
  •  Pertumbuhan riset
Upaya-upaya awal untuk memahami belajar adalah melalui kebijakan tradisional, yang biasanya didasarkan pada pengalama, dan melalui filsafat. Problem dalam kebijaksanaan tradisional adalah informasi itu dapat ditafsirkan dengan cara yang berbeda-beda Tiga kriteria untuk semua teori adalah, seperangkat asumsi yang jelas tentang aspek belajar yang dibahas oleh teori, definisi yang jelas dari istilah penting dan prinsip spesifik yang diambil dari asumsi yang dapat diuji melalui riset. Kriteria keempat yang hanya berlaku untuk teori belajar adalah teori harus menjelaskan dinamika psikologis dasar dari kejadian yang mempengaruhi belajar.

Fungsi umum teori belajar:
  1. Sebagai kerangka riset
  2. Memberikan kerangka organisasi untuk item-item informasi
  3. Mengidentifikasi sifat dari peristiwa yang kompleks
  4. Mereorganisasi pengalaman sebelumnya
  5. Bertindak sebagai penjelasan kerja dari peristiwa
Selain fungsi umum, teori belajar juga memiliki beberapa fungsi khusus:
  1. Sebagai pedoman perencanaan instruksi
  2. Mengevaluasi produk untuk dipakai dikelas dan praktik belajar yang berlangsung 
  3. Mendiagnosa problem dan instruksi dikelas
  4.  Mengevaluasi riset berdasarkan teori
Perkembangan teori belajar dimulai pada awal abad ke 20, yang pertama pergeseran dari laboratorium ke ruang kelas terjadi pada tahun 1950-1975, yang kedua tumbuhnya psikologi kognitif yang terjadi pada tahaun 1975-1990,teori ini termasuk teori yang universal, yang ketiga tumbuhnya faktor pribadi,sosial dan kultural dalam belajar yang terjadi pada tahun 1980 sampai sekarang .
Pendapat konstruktivis mengenai sifat pengetahuan banyak mereduksi atau mengesampingkan peran realitas eksternal dalam produksi pengetahuan.
Problem utama dalam konstrutivisme sosial radikal yang dikemukakan oleh sebagian sarjana adalah:
  1. Kesimpulan tidak logis bahwa ilmuan akan mengembangkan teori yang berbeda jika mereka hidup dimasyarakat yang berbeda
  2. Penalaran logis dan bukti ilmiah/fisik bukan kriteria untuk menerima suatu teori
Implikasinya bagi ilmu pendidikan adalah: (a) jika pengetahuan adalah produk dari konvensi sosial, maka pendidikan  hanya perlu memastikan bahwa ide-ide akan sesuai dengan kepentingan yang kuasa; dan (b) pengembangan kemampuan kritis siswa tidak diperlukan jika tidak ada basis untuk menilai teori sebagai salah atau tidak masuk akal.
Ada juga tiga tipe konstruktivisme edukasional Konstruktivisme pribadi atau individual:
  1. Memandang semua pengetahuan sebagai konstruksi manusia
  2. Individu menciptakan pengetahuan dan mengonstruksi konsep
  3. Sudut pandang hanya bisa di nilai secara parsial berdasarkan korespondensinya dengan norma yang diterima umum.
Semoga uraian singkat ini bermanfaat :)

Tuesday, May 17, 2011

Proses kognitif dalam Proses Belajar E-learning

TUGAS KELOMPOK PENDIDIKAN

Topik : Proses Kognitif dalam Proses Belajar E-Learning

Proses Kognitif pada Mahasiswa Psikologi 2010 dalam 
Belajar E-Learning 


I.                   PENDAHULUAN

Inti proses belajar adalah perubahan pada diri individu  dalam aspek pengetahuan, sikap, keterampilan, dan kebiasaan sebagai produk dan interaksinya dengan lingkungan. Belajar adalah proses membangun pengetahuan melalui transformasi pengalaman. Dengan kata lain suatu proses belajar dapat dikatakan berhasil  bila dalam diri individu terbentuk pengetahuan, sikap, keterampilan, atau kebiasaan baru yang secara kualitatif lebih baik dari sebelumnya. Proses belajar dapat terjadi karena adanya interaksi antara individu dengan lingkungan belajar secara mandiri atau sengaja dirancang. Orang yang belajar mandiri secara individual dikenal sebagai otodidak, sedangkan orang yang belajar karena dirancang dikenal sebagai pembelajaran formal. Proses belajar sebagian besar terjadi karena memang sengaja dirancang. Proses tersebut pada dasarnya merupakan sistem dan prosedur penataan situasi dan lingkungan belajar agar memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem dan prosedur inilah yang dikenal sebagai proses pembelajaran aktif.

Proses pembelajaran yang baik adalah proses pembelajaran yang memungkinkan para pembelajar aktif melibatkan diri dalam keseluruhan proses baik secara mental maupun secara fisik. Model proses ini dikenal sebagai pembelajaran aktif atau pembelajaran interaktif dengan karakteristiknya sebagai berikut:  (1) adanya variasi kegiatan klasikal, kelompok dan perorangan; (2) dosen berperan sebagai fasilitator belajar, nara sumber dan manajer kelas yang demokratis; (3) keterlibatan mental (pikiran, perasaan) siswa tinggi; (4) menerapkan pola komunikasi yang banyak; (4) suasana kelas yang fleksibel, demokratis, menantang dan tetap terkendali oleh tujuan; (6) potensial dapat menghasilkan dampak intruksional dan dampak pengiring lebih efektif; (7) dapat digunakan di dalam atau di luar kelas/ruangan.

Dalam Proses Belajar aktif seharusnya ditunjang juga dengan memperhatikan E-learning ( Pembelajaran dengan Elektronoik), karena dapat membantu jalannya pembelajaran aktif.Selain itu proses belajar aktif yang memiliki karekteristik tersebut diatas merupakan konsep pula dari E-learning yang menngunakan pembimbing(dosen) sebagai fasilitator,E-learning juga mengedepankan sense siswa dalam belajar serta fleksibel dalam artian siswa menetukan bagaimana teknik penyerapan terbaik dari informasi yang ditangkap indarnya karenanya teori-teori belajar berimplikasi dengan proses belajar E-learning.Maka dari situlah kami mengangkat topik pembahasan tentangproses kognitif dalam proses belajar E-learning.


II.                 LANDASAN TEORI

  1. Dalam belajar E-Learning, pandangan kognitif mengenal pentingnya perbedaan individu dan memanfaatkan berbagai strategi belajar untuk mengakomodasi perbedaan tersebut.
  2. Psikologi Kognitif memandang belajar dari sudut pandang pemrosesan informasi individu dan Proses belajar E-learning harus menggunakan strategi-strategi yang memungkinkan peserta didik untuk menghadirkan materi belajar yang sesuai dengan individu masing-masing

II.i Psikologi Kognitif
Psikologi kognitif adalah salah satu cabang dari psikologi dengan pendekatan kognitif untuk memahami perilaku manusia. Psikologi kognitif mempelajari tentang cara manusia menerima, mempersepsi, mempelajari, menalar, mengingat dan berpikir tentang suatu informasi.

II.ii Kognitif
Menurut Piaget (Hetherington & Parke, 1975) menyebutkan bahwa ” kognitif adalah bagaimana anak beradaptasi dan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian di sekitarnya”.

Perkembangan kognitif merupakan salah satu perkembangan manusia yang berkaitan dengan pengetahuan, yakni semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individeu mempelajari dan memikirkan lingkungannya.

II.iii E-learning  
E-learning merupakan singkatan dari Elektronic Learning, merupakan cara baru dalam proses belajar mengajar yang menggunakan media elektronik khususnya internet sebagai sistem pembelajarannya. E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Beberapa ahli mencoba menguraikan pengertian e-learning menurut versinya masing-masing, diantaranya :
Jaya Kumar C. Koran (2002)
e-learning sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan.

Darin E. Hartley [Hartley, 2001]
e-Learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain.
LearnFrame.Com dalam Glossary of eLearning Terms [Glossary, 2001]
eLearning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer,maupun komputer standalone.


Menurut teori Piaget,ia mengatakan ada beberapa proses dalam kognitif manusia yaitu: 

Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya. 

Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sudah Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. 

Selain itu,juga terdapat teori kognitif dari Vygotsky,yaitu :
Teori Vigotsky dalam kegiatan pembelajaran juga dikenal apa yang dikatakan scaffolding (perancahan), dimana perancahan mengacu kepada bantuan yang diberikan teman sebaya atau orang dewasa yang lebih kompeten.


III.              ALAT DAN BAHAN 

  1. Printer 
  2. Laptop 
  3. Kertas ,pulpen,penggaris(Alat-Alat Tulis)  
  4. Printer 
  5. Kamera



TIME TABLE

NO
PERENCANAAN
TANGGAL
1
Penentuan Topik
05 April 2011
2
Judul
16 April 2011
3
Pendahuluan
17 April 2011
4
Landasan teori
17 April 2011
5
Menentukan subjek
29 April 2011
6
Analisis Data
7 May 2011





PERTANYAAN

JAWABAN

YA

TIDAK
  1.  Apakah kamu sering menggunakan internet dalam  pelaksaan tugas?
  2.  Apakah anda terbantu dengan penggunaan OHP dalam proses belajar?
  3.  Apakah dengan adanya Internet membuat Anda menjadi malas mencari informasi melalui refrensi buku?
  4.  Apakah menurutmu kuliah E-learning itu efektif?
  5.  Apakah  kamu mendapat Informasi yang optimal ketika melaksanakan kuliah online?
  6.  Dalam penyedian wi-fi di kampus,apakah kamu merasa terbantu?
  7.  Apakah penugasan dengan blog dapat merangsang kognitif kamu?
  8.  Apakah Internet itu memberikan banyak informasi buat Anda?
  9. Apakah kamu sepenuhnya percaya dengan informasi yang kamu peroleh dari internet? 
  10. Apakah kamu lebih menyukai belajar face-to-face dibanding kuliah online?
  11.  Apakah kamu tertarik dengan penyajian teori menggunakan video?
  12. Apakah kamu mendapat banyak informasi melalaui siaran televisi?
  13. Apakah kamu pernah membeli CD yang berisi materi belajar? 
  14. Apakah E-learning membuat Anda menjadi lebih berpikir kritis?
  15. Apakah dengan metode E-learning problema materi-materi belajar dapat terpecahkan?








ANALISIS DATA

Data yang didapat dari hasil observasi Mahasiswa/I Fakultas Psikologi angkatan 2010 dapat disimpulkan bahwasanya mereka menyukasi konsep belajar E-learning untuk pencarian tugas/Informasi yang membantu perkuliahan. Namun,diarasakan kurang optimal jika konsep E-learning diarahkan untuk kuliah online. Meraka lebih merasa egfektif dengan konsep E-learning seperti Internet,Wi-fi,OHP,serta penyajian video dalam membantu penyampaian materi belajar.

ALASAN MEMILIH SUBJEK
Kami meilih subjek penelitian adalah mahasiswa/I Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara dengan alasan :
Sesuai dengan topic yang kami pilih yaitu “Proses kognitif dalam proses belajar E-learning” kami memilih mahasiswa Psikologi dengan pertimbangan bahwasanya mahasiswa/I Fak. Psikologi telah melaksanakan pembelajaran E-learning. Dapat dilihat dari fasilitas OHP dikelas,Wi-Fi,dan adanya kuliah online.

KALKULASI BIAYA:
Printer ; 2000
Fotocopy : 5000

PELAKSANAAN

Penelitian dilaksanakan pada Sabtu,01 May 2011 pukul 12.40 Bertempat di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara. Sebelumnya kelompok kami telah memilih/menentukan subjek yaitu Mahasiswa/I Fak. Psikologi dengan pertimbangan bahwasanya pelaksaan belajar E-learning dilakukan di Fakultas tersebut.
Kami menyiapkan kuisoner bagi para subjek untuk diisi,lalu kami mengambil beberapa mahasiswa/I untuk menjadi observer kelompok kami.


LAPORAN

Dari hasil Observasi kelompok kami,didapat bahwa seringnya mahasiswa (karena dalam observasi ini subjeknya mahasiswa) mencari informasi lewat Internet yang merupakan salah satu media belajar E-learning.Meraka juga merasa terbantu dengan adanya Wi-Fi,Blog dan mereka juga tertarik dengan pemamparan materi melalui video.Hal ini merupakan beberapa konsep belajar E-learning, Namun, untuk kulia online meraka merasa kurang dapat menyerap informasi,sehingga dapat dikatakan kurangnya rangsangan kognitif disini.


POSTER





TESTIMONI

Tugas ini cukup membuat tidak tidur, susah menjalin kerja sama antar kelompok. Tugas ini juga memberi banyak pelajaran. Banyaknya kendala dalam merampungkan tugas ini membuat kelompok kami menjadi saling memahami satu sama lain. Meskipun awalnya sulit menjalin kerja sama dengan baik. Alhamdulillah tugas ini rampung dan pasti banyak kekurangan, kami mohon dimaklumi.
 

DAFTAR PUSTAKA

Santrock., J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media GrouP

http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_perkembangan_kognitif

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org/wiki/E-
learning&ei=x8nMTdaQBYeWvAPBrOyVCg&sa=X&oi=translate&ct=result&
resnum=2&ved=0CDgQ7gEwAQ&prev=/search%3Fq%3De-
learning%26hl%3Did%26biw%3D1300%26bih%3D615%26prmd%3Divnsl

http://tatangjm.wordpress.com/2008/07/31/kognitif/

http://e-dufiesta.blogspot.com/2008/06/pengertian-e-learning.html