Monday, September 23, 2013

Kuliah Online


Testimoni Kuliah Online:
Kuliah online sangat menyenangkan, tidak harus berpakaian rapi. Kita bisa santai, sambil belajar. Seperti kuliah online kemarin, semua teman sangat antusias menjawab pertanyaan dosen. Tidak ada yang malu-malu seperti jika dikelas. Topik pelajaran juga tidak terkesan susah dan banyak, dikuliah online topik dibahas dengan seru, membuat saya sangat mudah untuk memahami.
Kuliah online MENARIK!

Kesimpulan kuliah online kami mengenai teori Gestalt dan teori Behavioristik:

Kesimpulan untuk teori Gestalt
Bahwasanya teori Gestalt sebenarnya sering kita jumpai di kegiatan belajar sehari hari dimana kita berusaha untuk melihat suatu topik tidak hanya dari satu sudut pandang saja melainkan secara keseluruhan. Contohnya ketika kita melihat kubus, kita tidak bisa melihat hanya dari sudut depan karena yang terlihat hanyalah bentuk persegi. Oleh karenanya kita harus melihat secara keseluruhan untuk dapat melihat bentuk kubusnya. Contoh lain adalah kita berusaha memahami topik A. Topik A tidak dapat kita pahami maknanya jika kita hanya melihat pandangan tokoh X melainkan harus berdasarkan pandangan beberapa tokoh seperti Y dan Z agar makna dari topik A dapat kita pahami secara keseluruhan.

Kesimpulan untuk teori Behavioristik
Teori Behavioristik berbicara mengenai stimulus dan ketika kita merespon stimulus tersebut kita akan mendapatkan imbalan (reward, punishment). Jadi respon yang kita buat berhubungan atau sesuai dengan stimulus yang diberikan dan  imbalan berhubungan dengan respon yang kita berikan. Contoh dari teori ini adalah ketika kita diminta untuk melakukan kuliah online, respon dari kami adalah mengaktifkan internet dan membuka google talk dan setelah melakukan respon tersebut, kami mahasiswa akan diberikan nilai (reward) oleh dosen pengampu.

Sekian kesimpulan teori Gestalt dan teori Behavioristik dari kami. Semoga bermanfaat !

Sunday, September 15, 2013

Tugas 2


Bab 2
Teori-teori Belajar Awal

Di awal abad ke 20, disiplin psikologi yang baru terbentuk sedang mencari arah dan fokus. Psikologi juga ingin mengembangkan sains pasti seperti fisika dan kimia. Akan tetapi, disiplin ini belum memiliki metode riset yang pasti. Dari sini lahir behaviorisme, yang diperkuangkan oleh pendirinya, B. Watson. Dua pendekatan awal untuk mempelajari perilaku adalah pengkondisian klasik dan koneksionisme. Keduanya memprioritaskan belajar dan berhasil mengolah berbagai perilaku dalam laboratorium. John Watson mendukung studi perilaku. Alasannya adalah semua organisme menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui respons, dan respon-respon tertentu biasanya disebabkan oleh peristiwa (stimuli) tertentu. Dengan mempelajari perilaku, psikolog akan mampu untuk memprediksi respon yang ditimbulkan lewat srimulus, dan sebaliknya.

Istilah behaviorisme merujuk pada beberapa teori yang mengandung tiga asumsi dasar tentang belajar. Asumsi ini adalah :

  1. Yang  menjadi fokus studi seharusnya adalah perilaku yang dapat di amati, bukan kejadian mental internal atau rekonstruksi verbal atas kejadian.
  2. Perilaku harus dipelajari melalui elemennya yang paling sederhana (stimuli spesifik dan respon spesifik).
  3. Proses belajar adalah perubahan behavioral. Suatu respon khusus terasosiasikan dengan kejadian dari suatu stimulus khusus, dan terjadi dalam kehadiran stimulus tersebut.
Pavlov dan Pengkondisian Klasik atau Refleks

Eksperimen terkenal terhadap refleks dilakukan di laboratorium Ivan Pavlov, beliau menemukan bahwa reaksi tidak sengaja, keluarnya air liur, dapat dilatih untuk merespon suara yang tidak berhubungan dengan makanan. Riset dilaboratorium Pavlov ini penting karena ia menunjukkan bahwa reaksi keluarnya air liur adalah refleks-reaksi spontan yang terjadi secara otomatis ketika menerima stimulus tertentu. Mengubah relasi alamiah antara stimulus dan reaksi itu dianggap sebagai terobosan penting dalam studi perilaku.

Behaviorisme John Watson

Selain mengajak orang lain untuk mendukung pendapat behaviorisme yang didasarkan pada pengkondisian klasik, Watson juga mengembangkan teori emosi behavioral, dia berpendapat bahwa kehidupan emosi orang dewasa bersumber dari pengkondisian reaksi emosioanal insting (cinta,marah.takut) terhadap berbagai macam objek dan peristiwa. Watson menunjukkan teorinya dalam eksperimen dengan Albert, bayi usia 11 bulan. Reaksi takut Albert dikondikan ke tikus putih dan reaksi ini di transfer ke kelinci putih.

Koneksionsime Edward Thorndike

 Meskipun koneksionisme Edward Thorndike biasanya dirujuk sebagai teori behavioris, ia berbeda dengan pengkondisian klasik dalam dua hal.
  • Thomas Thorndike tertarik dengang proses mental, dan dia pertama-pertama mendesain eksperimennya untuk meneliti proses pemikiran binatang.
  • Alih-alih meriset reaksi refleks atau tidak sukarela, Thorndike meneliti perilaku mandiri atau sukarela.
Thorndike menyebut eksperimen ini sebagai pengkondisian instrumental untuk merefleksikan perbedaannnya dengan pengkondisian klasik. Teori ini dikenal sebagai koneksionisme karena hewan membangun koneksi antara stimuli partikuler dengan perilaku mandiri.
Thorndike pada awalnya mengidentifikasi tiga hukum belajar, untuk menjelaskan proses ini.
  1. Hukum efek (low of effects) menyatakan bahwa suatu keadaan yang memuaskan setelah respon akan memperkuat koneksi antara stimulus dan perilaku yang tepat, dan keadaan yang menjengkelkan akan melemahkan koneksi tersebut. 
  2.  Hukum latihan (low of exercise) menyatakan bahwa perulangan atau repetisi dari pengalaman akan meningkatkan peluang respon yang benar. 
  3.   Hukum kesiapan (low of readiness) mendeskripsikan kondisi yang mengatur keadaan yang disebut sebagai “memuaskan” atau “menjengkelkan”
Thorndike mendasarkan interpretasinya atas proses belajar pada studi perilaku. Namun, karena teorinya juga mencakup referensi ke kejadian mental, teorinya berada ditengah-tengah antara perspektif kognitif dan behaviorisme “murni” dari periset lain. Dua pendekatan belajar lainnya, yang disebut teori S-R, dikembangkan oleh Clark Hull dan Edwin Guthrie. Hull mendeskripsikan penguatan sebagai pemenuhan kebutuhan biologis dan Guthrie mengidentifikasi prinsip belajar tunggal, asosiasi atau kontiguitas dari stimulus dan respon.

Psikologi Gestalt

Fokus awal riset Gestalt adalah pengalaman persepsi. Riset yang dilakukan psikologi Gestalt terhadap persepsi visual menunjukkan bahwa :
  • Ciri global dideteksi sebagai keseluruhan, bukan sebagai elemen-elemen sederhana
  • Proses ini konstruktif karena individual sering mentransformasikan input visual yang tidka lengkap ke dalam citra perseptual yang lebih jelas.
Asumsi dasar teori Gestalt adalah:
  1. Yang mestinya dipelajari adalah perilaku molar bukan perilaku molecular (kontraksi otot atau sekresi kelenjar)
  2. Organisme merespon “keseluruhan sensoris yang tersegregasi” ketimbang pada stimuli spesifik atau kejadian-kejadian yang terpisah dan independent
  3. Lingkungan geografis yang hadir sebagaimana adanya, berbeda dengan lingkungan behavioral, yang merupakan cara sesuatu muncul. Lingkungan behavioral adalah realitas subjektif.
  4. Organisasi lingkungan sensoris adalah interaksi dinamis dari kekuatan-kekuatan di dalam struktur yang mempengaruhi persepsi individu.
Karakteristik tampilan stimulus yang mempengaruhi persepsi adalah komprehensivitas dan stabilitas gambaran (hukum pragnanz) dan karakteristik lain yang memberi kontribusi pada kelengkapan struktur atau pola. 

Psikologi Gestalt memberikan kontribusi beberapa konsep untuk memahami pemecahan masalah. Mungkin yang paling terkenal adalah konsep pemahaman (wawasan), yang melibatkan reorganisasi persepsi seseorang untuk “melihat” solusi. Analisi kontemporer mengindikasikan bahwa pemahaman kreatif pada masalah baru memerlukan kerja keras dan riset, periode inkubasi, momen wawasan, dan pengkajian lebih lanjut. Dalam kehidupan sehari-hari, wawasan terhadap masalah mungkin diperoleh lewat pengaturan kembali beberapa aspek dari persoalan, elaborasi, dan relaksasi pembatas. 

Kontribusi lain dari psikologi Gestalt adalah pembedaan oleh Wertheimer atas belajar arbitrer (tanpa makna) dan belajar bermakna, dan faktor-faktor lain yang mempengaruhipemecahan masalah. Didalamnya mencakup pengidentifikasian masalah untuk menyusun solusi yang memiliki nilai fungsional, peran penemuan pemecahan masalah yang bermakna dengan panduan, dan menghindari pembatasan pemecahan masalah. Hal-hal yang membatasi itu antara lain adalah kekakuan fungsional, yakni ketidakmampuan untuk melihat elemen-elemen dari masalah dengan cara baru dan belenggu masalah, yakni kekuatan dalam memecahkan masalah. Perkembangan lainnya adalah aplikasi konsep Gestalt ke formal kelompok sosial dan motivasi serta konsep belajar laten.

Perbedaan antara Behaviorisme dan Teori Gestalt

Psikologi behaviorisme dan Gestalt mendasarkan risetnya pada asumsi yang berbeda mengenai sifat dan belajar dan fokus studinya. Behaviorisme mendefinisikan belajar sebagai perubahan perilaku dan mengidentifikasi stimuli dan respons spesifik sebagai fokus riset. Sedangkan, psikologi Gestalt berpendapat bahwa sesorang merespon stimuli yang berorganisasi dan persepsi perorangan adalah faktor penting untuk memecahkan masalah. Orientasi yang berbeda ini menimbulkan kontribusi berbeda untuk bidang pendidikan.

Saturday, September 14, 2013

Diskusi Kelompok Pertemuan 1 Psikologi Belajar

Nama Anggota:

Teori Kognisi Sosial Bandura:
1.       Lingkungan mempengaruhi proses belajar individu
2.      Dengan adanya suatu modeling itu dapat mempermudah individu dalam proses pembelajaran
3.     Pengaplikasiannya terlihat jelas di kehidupan sehari-hari
4.     Tergantung pada individu bagaimana dia akan merespon lingkungannya

Point penting teori Bandura:
1.     Observasi
2.      Penilaian
3.      Reaksi

Secara filsafat konstruktivis-sosial:
1.      Pengetahuan adalah hasil pembelajaran individu melalui observasi yang diperoleh dari lingkungan
2.     Belajar adalah proses bagaimana individu mengonstuksi dan merekonstruksi pengetahuan berdasarkan penilaian  yang didapat dari hasil observasi

3.     Lokus belajar adalah bagaimana individu bereaksi terhadap hasil observasi dan penilaiannya  dari lingkungan

Sunday, September 8, 2013

Tugas 1



Bab 1
Tinjauan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa lepas dengan yang namanya belajar. Belajar adalah proses multisegi yang biasanya dianggap sesuatu yang biasa saja oleh individu sampai mereka mengalami kesulitan saat menghadapi tugas yang kompleks. Ada beberapa peran belajar dalam kehidupan sehari-hari:
  1. Bagi individu, studi tentang ‘belajar’ dapat menjelaskan tentang pemerolehan berbagai kemampuan dan keterampilan, tentang strategi untuk menjalankan peran di dunia, serta tentang sikap dan nilai yang memandu tindakan seseorang.
  2. Belajar adalah penting bagi masyarakat. Untuk mempelajari tentang nilai, bahasa, dan perkembangan kultur-pengalaman yang diwariskan (Vygotsky, 1924/1979)
Belajar merupakan hal yang sangat penting bagi masyarakat dan individu, oleh sebab itu kita tidak bisa membiarkan proses pendidikan begitu saja.
Ada beberapa upaya prateoretis untuk menjelaskan tentang belajar.
  • Kebijakan tradisional
  • Filsafat 
  •  Pertumbuhan riset
Upaya-upaya awal untuk memahami belajar adalah melalui kebijakan tradisional, yang biasanya didasarkan pada pengalama, dan melalui filsafat. Problem dalam kebijaksanaan tradisional adalah informasi itu dapat ditafsirkan dengan cara yang berbeda-beda Tiga kriteria untuk semua teori adalah, seperangkat asumsi yang jelas tentang aspek belajar yang dibahas oleh teori, definisi yang jelas dari istilah penting dan prinsip spesifik yang diambil dari asumsi yang dapat diuji melalui riset. Kriteria keempat yang hanya berlaku untuk teori belajar adalah teori harus menjelaskan dinamika psikologis dasar dari kejadian yang mempengaruhi belajar.

Fungsi umum teori belajar:
  1. Sebagai kerangka riset
  2. Memberikan kerangka organisasi untuk item-item informasi
  3. Mengidentifikasi sifat dari peristiwa yang kompleks
  4. Mereorganisasi pengalaman sebelumnya
  5. Bertindak sebagai penjelasan kerja dari peristiwa
Selain fungsi umum, teori belajar juga memiliki beberapa fungsi khusus:
  1. Sebagai pedoman perencanaan instruksi
  2. Mengevaluasi produk untuk dipakai dikelas dan praktik belajar yang berlangsung 
  3. Mendiagnosa problem dan instruksi dikelas
  4.  Mengevaluasi riset berdasarkan teori
Perkembangan teori belajar dimulai pada awal abad ke 20, yang pertama pergeseran dari laboratorium ke ruang kelas terjadi pada tahun 1950-1975, yang kedua tumbuhnya psikologi kognitif yang terjadi pada tahaun 1975-1990,teori ini termasuk teori yang universal, yang ketiga tumbuhnya faktor pribadi,sosial dan kultural dalam belajar yang terjadi pada tahun 1980 sampai sekarang .
Pendapat konstruktivis mengenai sifat pengetahuan banyak mereduksi atau mengesampingkan peran realitas eksternal dalam produksi pengetahuan.
Problem utama dalam konstrutivisme sosial radikal yang dikemukakan oleh sebagian sarjana adalah:
  1. Kesimpulan tidak logis bahwa ilmuan akan mengembangkan teori yang berbeda jika mereka hidup dimasyarakat yang berbeda
  2. Penalaran logis dan bukti ilmiah/fisik bukan kriteria untuk menerima suatu teori
Implikasinya bagi ilmu pendidikan adalah: (a) jika pengetahuan adalah produk dari konvensi sosial, maka pendidikan  hanya perlu memastikan bahwa ide-ide akan sesuai dengan kepentingan yang kuasa; dan (b) pengembangan kemampuan kritis siswa tidak diperlukan jika tidak ada basis untuk menilai teori sebagai salah atau tidak masuk akal.
Ada juga tiga tipe konstruktivisme edukasional Konstruktivisme pribadi atau individual:
  1. Memandang semua pengetahuan sebagai konstruksi manusia
  2. Individu menciptakan pengetahuan dan mengonstruksi konsep
  3. Sudut pandang hanya bisa di nilai secara parsial berdasarkan korespondensinya dengan norma yang diterima umum.
Semoga uraian singkat ini bermanfaat :)